Beranda | Artikel
Syirik Besar dan Jenis-jenisnya
21 jam lalu

Syirik Besar dan Jenis-jenisnya adalah bagian dari ceramah agama dan kajian Islam ilmiah dengan pembahasan kitab Minhaj Al-Firqah an-Najiyah wa ath-Tha’ifah Al-Manshurah. Pembahasan ini disampaikan oleh Ustadz Abdullah TaslimM.A. pada Sabtu, 12 Muharram 1448 H / 27 Juni 2026 M.

Kajian Islam Tentang Syirik Besar dan Jenis-jenisnya

Padahal, Al-Qur’an yang merupakan sebaik-baik petunjuk beserta hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam banyak memperingatkan tentang perbuatan syirik yang dilakukan oleh manusia. Peringatan tersebut menjadi salah satu perkara yang paling banyak diulang di dalam Al-Qur’an, terutama mengenai syirik dalam hal berdoa atau meminta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Meluruskan Pemahaman Penyimpangan Istilah Syariat

Pada pembahasan sebelumnya, penulis telah menjelaskan masalah yang berhubungan dengan konsep al-hakimiyah atau prinsip bahwa tidak ada hukum kecuali hukum Allah. Prinsip ini harus didudukkan maknanya berdasarkan pemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah agar dapat dipahami dengan benar. Tujuannya adalah agar manusia tidak sekadar menggunakan kalimat tersebut sebagai jargon tanpa mempraktikkan kandungan maknanya secara tepat. Kelalaian ini pernah terjadi pada orang-orang Khawarij yang menggunakan kalimat tersebut untuk melegitimasi makna yang menyimpang dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya. Fenomena ini menggambarkan istilah:

كَلِمَةُ حَقٍّ أُرِيدَ بِهَا بَاطِلٌ

“Kalimat yang benar, namun yang diinginkan di balik itu adalah kebatilan.” 

Penyimpangan tersebut timbul karena seseorang tidak merujuk kepada penafsiran salaf serta tidak menukil pemahaman para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhuma ajmain dalam menjelaskan istilah-istilah syariat. Sebaliknya, masing-masing pihak menjelaskan istilah tersebut sesuai dengan pemahamannya sendiri, mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat (samar), serta mengambil satu ayat dengan meninggalkan ayat yang lain.

Hanya pemahaman para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhuma ajmain dalam memahami dan mengamalkan Islam yang bersifat menyeluruh. Metode mereka saling menjelaskan antara satu ayat dengan ayat yang lainnya, serta menyelaraskan antara ayat Al-Qur’an, hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan praktik nyata dari para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhuma ajmain. 

Definisi Syirik Besar dan Jenis-jenisnya

Pembahasan berikutnya yang dibawakan oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullahu ta’ala masuk pada bab Syirik Besar dan Jenis-jenisnya. Pengulangan pembahasan mengenai tauhid dan akidah ini merupakan bagian murni dari manhaj salaf dan manhaj para sahabat. Di dalam kitabnya, penulis rahimahullahu ta’ala menjelaskan definisi syirik besar:

الشِّرْكُ الْأَكْبَرُ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا مَثِيلًا تَدْعُوهُ كَمَا تَدْعُو اللَّهَ أَوْ تُصْرِفَ لَهُ نَوْعًا مِنْ أَنْوَاعِ الْعِبَادَةِ كَالِاسْتِغَاثَةِ أَوْ غَيْرِهَا

“Syirik besar adalah seseorang atau sekelompok kaum menjadikan tandingan atau sesuatu yang serupa dan disamakan dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang dia berdoa atau meminta kepadanya sebagaimana dia berdoa kepada Allah, atau memberikan kepadanya salah satu dari jenis-jenis ibadah seperti istighasah atau yang lainnya.”

Pemalingan hak khusus Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada selain-Nya dapat berupa tindakan meminta pertolongan (istighasah), menyembelih hewan kurban, bernazar, atau bentuk ibadah lainnya yang ditujukan kepada makhluk. Di dalam konsep syirik besar, terdapat unsur menjadikan tandingan bagi Allah ‘Azza wa Jalla secara sempurna. Unsur inilah yang membedakan antara syirik besar dengan syirik kecil.

Pada syirik kecil, tandingan yang dibuat tidak bersifat sempurna. Meskipun demikian, syirik kecil tetap dilarang keras karena merupakan wasilah atau perantara yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam syirik besar.

Contoh dari syirik kecil ini adalah sifat pamer atau memperlihatkan amal saleh di hadapan manusia dengan skala yang ringan. Pelakunya tidak bermaksud menjadikan manusia tersebut sebagai tandingan yang sempurna bagi Allah ‘Azza wa Jalla. Contoh lainnya adalah ucapan yang mengandung makna penyetaraan antara Allah dengan makhluk, seperti kalimat: مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ “Atas kehendak Allah dan kehendakmu.”.

Kesimpulannya, syirik besar mengandung unsur penokohan tandingan yang sempurna kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, sedangkan syirik kecil tidak sampai pada tingkatan sempurna tersebut melainkan menjadi jembatan menuju ke sana. Na’udzubillahi min dzalik.

Dosa Paling Besar di Sisi Allah

Kaidah mengenai kedudukan syirik besar sebagai dosa tertinggi berlandaskan pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ta’ala ‘anhu:

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ: أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ

“Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: ‘Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?’ Beliau bersabda: ‘Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dialah yang telah menciptakanmu’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menjadikan tandingan bagi Allah ‘Azza wa Jalla merupakan tindakan yang sangat tidak pantas. Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah satu-satunya Dzat Yang Mahakuasa dalam hal rububiyah, meliputi aktivitas menciptakan, mengatur alam semesta, menghidupkan, mematikan, memberikan rezeki, menjauhkan segala keburukan, mendatangkan kebaikan, serta memenuhi hajat seluruh makhluk. Menyamakan Dzat Yang Mahasempurna dengan makhluk yang lemah merupakan bentuk dosa paling besar sekaligus kezaliman yang paling zalim.

Nyatanya, banyak manusia yang masih terjerumus ke dalam dosa ini akibat tipu daya setan. Kenyataan tersebut menjadi alasan kuat mengapa bahaya syirik harus senantiasa diperingatkan kepada kaum muslimin agar mereka dapat menjauhinya. Seseorang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hari akhir tentu akan berusaha sekuat tenaga untuk menjauhi dosa yang paling besar dan kezaliman yang paling buruk ini. 

Praktik menjadikan tandingan bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala sering kali mewujud dalam bentuk pemalingan doa. Seseorang menyekutukan Allah ‘Azza wa Jalla dengan cara berdoa kepada-Nya sekaligus berdoa kepada selain-Nya, atau dengan menjadikan orang-orang saleh yang telah wafat sebagai perantara (wasilah) dalam beribadah. Pintu kesyirikan ini banyak menimpa kaum muslimin, kecuali mereka yang mendapatkan penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Modus perantara ini persis seperti argumentasi kaum musyrik jahiliah terdahulu yang diabadikan di dalam Al-Qur’an:

مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ

“Kami tidak menyembah mereka melainkan (berharap) agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (QS. Az-Zumar[39]: 3)

Syirik besar memiliki variasi yang beragam dan tidak hanya terbatas pada amalan lahiriah semata. Banyak manusia tidak menyadari bahwa kesyirikan juga dapat terjadi pada ranah amalan hati, seperti porsi rasa cinta (mahabbah) dan rasa takut (khauf). Seseorang dapat jatuh ke dalam syirik besar apabila ia mencintai makhluk atau takut kepada makhluk setingkat dengan rasa cinta dan takutnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Amalan hati merupakan perkara yang tidak dapat dikendalikan secara mandiri oleh manusia, karena hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Mahakuasa untuk membolak-balikkan hati hamba-Nya. Konsekuensinya, apabila porsi rasa cinta, rasa takut, pengharapan (raja’), serta tawakal kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam hati seseorang melemah, maka secara otomatis hatinya akan tergerak untuk bersandar dan bergantung kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ketergantungan Hati dan Tipu Daya Setan

Penyimpangan aqidah pada ranah amalan hati pasti terjadi di tengah kehidupan manusia. Aktivitas kesyirikan yang dilakukan secara terang-terangan, seperti bersujud kepada pohon, saat ini hampir tidak ada lagi yang melakukannya secara terbuka, meskipun masih ada sebagian orang awam yang bertindak demikian. Namun, dalam konteks ketergantungan hati, banyak orang yang terjatuh ke dalam kesyirikan dengan menyandarkan hati dan meminta pemenuhan hajat kepada makhluk, meskipun sosok tersebut tidak berada di hadapannya.

Sebagian orang menggantungkan harapan kepada guru-guru yang dianggap mampu memenuhi segala hajat hidupnya. Fenomena ini marak terjadi di kalangan kaum muslimin akibat kelemahan iman dan rapuhnya penyandaran hati kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dampak dari tidak mengenal Allah dengan baik serta meremehkan pembahasan tentang iman ini akan terlihat nyata saat seseorang ditimpa suatu kesulitan yang besar. Ketika momentum itu datang, hati yang lemah dalam bersandar kepada Allah secara otomatis akan mencari sandaran kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Setiap muslim harus senantiasa ingat bahwa tipu daya setan sangatlah kuat dalam memalingkan manusia dari kebenaran, terutama dalam masalah tauhid.

Syirik dalam Berdoa dan Fenomena Ujian Penyakit

Jenis perbuatan syirik besar yang pertama adalah syirik dalam berdoa, yaitu berdoa kepada selain Allah atau menyertakan makhluk dalam berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan cara membuat perantara. Kasus seperti ini merupakan jenis kesyirikan yang paling banyak terjadi di dalam komunitas masyarakat. Praktik pemalingan doa ini kerap ditujukan kepada para nabi atau orang-orang yang dianggap sebagai wali, dengan tujuan untuk meminta kelancaran rezeki atau kesembuhan dari suatu penyakit.

Fenomena ini sering kali disaksikan dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang mungkin tampak bertauhid dan mengakui keharusan bersandar hanya kepada Allah saat berada dalam kondisi lapang. Namun, ketika berada dalam kondisi terdesak, ia menjadi tidak sabar dalam berdoa dan menuntut kesembuhan instan, padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu memilihkan ketetapan yang terbaik untuknya. Akibat lemahnya keimanan dan kurangnya makrifat kepada Allah, ia kehilangan keyakinan terhadap hikmah pilihan Allah, sehingga ia nekat mencari kesembuhan dengan menghalalkan segala cara.

Tragedi keimanan ini seringkali dipicu oleh ujian penyakit yang menimpa anak atau cucu kesayangan. Setelah menempuh jalur medis dan tidak kunjung mendapatkan kesembuhan yang diinginkan, ia beralih mencari pengobatan alternatif yang ternyata menyerempet ke arah perbuatan syirik. Ironisnya, hal ini dapat menimpa seseorang yang sudah lama mengikuti pengajian agama. Realitas tersebut menunjukkan bahwa kondisi keimanan seorang hamba di waktu lapang belum tentu sama dengan kondisinya di waktu susah, kecuali bagi orang-orang yang mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kesembuhan yang paling besar bagi seorang hamba adalah ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyelamatkan dirinya dari penyakit hati yang paling berbahaya, yaitu syirik. Fakta sosial membuktikan bahwa sebagian orang yang nekat mendatangi pengobatan alternatif berbau syirik ternyata tidak kunjung sembuh, bahkan penyakit fisiknya semakin parah dan diperberat dengan rusaknya batin akibat bersandar kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Setiap muslim wajib meyakini dengan penuh kesadaran bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah Asy-Syafi (Maha Penyembuh) satu-satunya. Keyakinan terhadap sifat Allah ini tidak boleh ditiadakan oleh asumsi bahwa kesembuhan harus terjadi secara instan hanya dengan satu atau dua kali doa. Allah ‘Azza wa Jalla memiliki banyak hikmah yang agung saat menurunkan kesembuhan secara bertahap, atau bahkan saat memilih untuk tidak menyembuhkan penyakit fisik tersebut melainkan menggantinya dengan kebaikan dari sisi yang lain.

Penyakit fisik yang menahun belum tentu menjadi sebab penderitaan yang mutlak atau menjadi sebab datangnya ajal seseorang. Banyak manusia yang terlihat sehat bugar, namun ternyata usianya jauh lebih pendek dibandingkan orang yang sakit-sakitan. Oleh karena itu, modal utama dalam menghadapi ujian ini adalah menjaga keimanan, memelihara prasangka baik (husnudzhon) kepada Allah, mengenal sifat-sifat kesempurnaan-Nya, serta meyakini keberadaan hikmah yang agung di balik setiap musibah yang menimpa. Pola pikir tauhid inilah yang menjadi obat terbaik demi meraih kesembuhan hati, karena kesembuhan hati merupakan dirigen bagi kesembuhan seluruh anggota badan manusia.

Keyakinan yang kuat serta tawakal yang lurus kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sebaik-baik metode pengobatan bagi seorang hamba. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu ta’ala pernah memberikan sebuah penegasan yang sangat berharga mengenai realitas ini:

وَكَثِيرٌ مِنَ الْمَرْضَى يُشْفَوْنَ بِلَا تَدَاوٍ بِرُقْيَةٍ نَافِعَةٍ أَوْ دَعْوَةٍ مُسْتَجَابَةٍ أَوْ حُسْنِ تَوَكُّلٍ

“Dan banyak dari orang yang sakit itu disembuhkan (oleh Allah) tanpa berobat, melainkan dengan ruqyah yang bermanfaat, doa yang dikabulkan, atau tawakal yang baik.”

Aktivitas berobat medis memang sangat dianjurkan di dalam Islam. Namun, metode tersebut bukan satu-satunya jalan untuk meraih kesembuhan. Ketika ikhtiar medis belum membuahkan hasil yang diinginkan, seorang muslim harus sadar bahwa ruang lingkup usaha tidak terbatas pada hal itu saja. Banyak orang sakit yang disembuhkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla tanpa intervensi obat, melainkan melalui wasilah rukyah syari’ah yang membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, lafaz-lafaz doa kesembuhan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maupun untaian doa yang dikabulkan. Kesembuhan tersebut dapat pula diraih berkat kuatnya keyakinan di dalam hati serta lurusnya penyandaran diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kelemahan manusia dalam memahami konsep ini sering kali menjadi penyebab terhalangnya buah manis tawakal secara sempurna. Manusia sering kali sekadar membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam Al-Qur’an:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq[65]: 3)

Namun, implementasi dari ayat tersebut masih sangat jarang dipraktekkan dengan benar. Sebelum menempuh jalur pengobatan dan berkonsultasi kepada ahli medis, seorang hamba semestinya mengawali tindakannya dengan berdoa serta membenarkan penyandaran hatinya kepada Allah ‘Azza wa Jalla terlebih dahulu.

Kenyataan yang sering terjadi adalah munculnya kegelisahan yang berlebihan, sehingga manusia cenderung mengutamakan pencarian obat dan dokter, lalu menempatkan doa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala pada urutan kedua atau ketiga setelah usaha-usaha lahiriah tersebut selesai dilakukan. Pola tindakan yang menomorduakan Allah ini membuat buah manis tawakal menjadi sulit untuk diraih. Padahal, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan jaminan balasan bagi orang yang bertawakal secara langsung melalui diri-Nya sendiri, bukan melalui perantara makhluk. Apabila Allah ‘Azza wa Jalla yang menjamin kecukupan tersebut, tidak ada alasan bagi orang yang beriman untuk meragukan jaminan-Nya.

Doa sebagai Sebab yang Paling Bermanfaat

Ikhtiar atau usaha untuk meraih kesembuhan tidak melulu terpaku pada satu metode, dan seorang hamba tidak diharuskan membatasi diri pada satu macam usaha lahiriah saja. Perkara terpenting adalah memastikan bahwa sebab atau ikhtiar yang ditempuh selaras dengan syariat. Di antara sekian banyak sebab, sarana yang paling utama adalah memohon langsung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai pemilik mutlak segala kesembuhan. Mengenai keutamaan ini, Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullahu ta’ala menjelaskan di dalam kitabnya:

وَلَيْسَ شَيْءٌ مِنَ الْأَسْبَابِ أَنْفَعَ مِنَ الدُّعَاءِ وَلَا أَبْلَغَ فِي حُصُولِ الْمَطْلُوبِ مِنْهُ

“Dan tidak ada satupun diantara sebab-sebab yang ada yang lebih bermanfaat daripada doa, dan tidak ada yang lebih kuat pengaruhnya dalam mencapai apa yang diinginkan melebihi doa.”

Problem mendasar yang kerap menimpa seorang hamba adalah kualitas doa yang dipanjatkan terkesan seadanya. Manusia seringkali sangat totalitas dalam menempuh sebab lahiriah, seperti rela membeli obat dengan harga yang sangat mahal, serta bersedia meluangkan waktu untuk mengantri lama demi berkonsultasi dengan dokter ahli meskipun jaraknya sangat jauh dan tarifnya tinggi. Namun, saat bersimpuh untuk berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, aktivitas tersebut dilakukan secara terburu-buru, bahkan doa itu hanya dipanjatkan sekilas ketika teringat saja.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullahu ta’ala mengumpamakan doa laksana sebuah pedang. Sebilah pedang yang tajam tidak akan dapat berfungsi dengan baik jika penggunanya tidak pernah melatih diri dan tidak berusaha mempelajari jurus-jurusnya secara maksimal untuk melumpuhkan lawan. Jika pedang tersebut digunakan secara asal-asalan, keberadaannya justru dapat melukai diri sendiri. Kesimpulan ini menunjukkan bahwa manusia masih kurang memaksimalkan fungsi doa sebagai sebab yang terbaik. Rapuhnya tawakal dan rendahnya kualitas doa yang dipanjatkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala berakibat pada melemahnya pengaruh pertolongan, jaminan kecukupan, serta ketenangan jiwa, yang sejatinya merupakan faktor paling primer untuk menyembuhkan penyakit pada anggota badan.

Pengaruh Amal Saleh Terhadap Kesejahteraan Fisik dan Batin

Korelasi antara kesehatan batin dengan kekuatan fisik ini selaras dengan sebuah riwayat yang bersumber dari sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma. Pernyataan beliau yang dinukil oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahumallah menegaskan:

إِنَّ لِلْحَسَنَةِ ضِيَاءً فِي الْوَجْهِ وَنُورًا فِي الْقَلْبِ وَقُوَّةً فِي الْجَسَدِ وَسَعَةً فِي الرِّزْقِ وَمَحَبَّةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ

“Sesungguhnya perbuatan baik (ketaatan kepada Allah) itu memberikan kecerahan pada wajah, cahaya di dalam hati, kekuatan pada fisik, kelapangan pada rezeki, dan rasa cinta di dalam hati para makhluk.”

Ketaatan memberikan dampak positif yang sangat nyata. Sebaliknya, perbuatan buruk atau kemaksiatan akan mendatangkan konsekuensi negatif yang berbanding terbalik. Sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu anhuma menjelaskan kelanjutan dampak tersebut:

وَإِنَّ لِلسَّيِّئَةِ سَوَادًا فِي الْوَجْهِ وَظُلْمَةً فِي الْقَبْرِ (أَوْ فِي الْقَلْبِ) وَوَهْنًا فِي الْجَسَدِ وَنَقْصًا فِي الرِّزْقِ وَبُغْضَةً فِي قُلُوبِ الْخَلْقِ

“Dan sesungguhnya perbuatan buruk itu menimbulkan kehitaman (kemuraman) pada wajah, kegelapan di dalam hati (atau kubur), kelemahan pada fisik, kesempitan pada rezeki, dan kebencian di dalam hati para makhluk.”

Kondisi fisik yang melemah akibat dosa akan membuat seseorang menjadi lebih rentan terserang berbagai macam penyakit. Manusia seringkali lupa bahwa bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan sebaik-baik sebab untuk memelihara kebaikan pada diri, baik kebaikan lahir maupun batin, termasuk dalam urusan kesehatan. Upaya mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla, selalu bersandar kepada-Nya, serta memperbanyak doa memohon kebaikan merupakan inti utama agar dijauhkan dari berbagai jenis penyakit. 

Larangan Berdoa kepada Selain Allah

Tindakan berdoa kepada selain Allah ‘Azza wa Jalla, baik ditujukan kepada para nabi maupun kepada orang-orang yang dianggap sebagai wali dengan maksud meminta kelancaran rezeki atau kesembuhan penyakit, dilarang keras di dalam syariat. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan larangan ini di dalam Al-Qur’an:

وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ ۖ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Yunus[10]: 106)

Predikat orang-orang yang zalim pada ayat tersebut bermakna orang-orang yang berbuat syirik kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Praktik kesyirikan merupakan tindakan yang sangat tidak masuk akal. Berdoa memohon kepada makhluk merupakan kekeliruan besar, karena makhluk tersebut diciptakan oleh Allah, rezekinya diatur oleh Allah, serta eksistensinya sendiri mutlak butuh dan bergantung kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Tindakan meminta kepada sesama makhluk yang lemah dan tidak meminta kepada Allah Yang Maha Kuat, Maha Perkasa, Maha Kaya, serta Maha Kuasa atas segala sesuatu menunjukkan rendah dan bodohnya pemikiran pelaku kesyirikan. 

Konsekuensi fatal bagi pelaku syirik doa ini juga ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melalui sabdanya:

مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang mati dalam keadaan menyeru (berdoa kepada) tandingan selain Allah, niscaya dia masuk ke dalam neraka.” (HR. Bukhari)

Jenis kesyirikan yang paling banyak diperingatkan dan dibantah di dalam Al-Qur’an adalah kesyirikan dalam hal berdoa. Fakta ini membuktikan bahwa mayoritas penyakit hati terbesar yang menimpa manusia adalah kurangnya penyandaran diri kepada Allah, serta rapuhnya keyakinan terhadap pertolongan dan jaminan kecukupan rezeki dari Allah ‘Azza wa Jalla. Kelalaian ini tercermin dari kebiasaan manusia yang jarang berdoa dan hanya mengetuk pintu langit ketika merasa butuh, itu pun dilakukan dengan kualitas doa yang seadanya.

Kondisi tersebut sangat kontras dengan karakteristik orang-orang saleh yang diabadikan di dalam Al-Qur’an. Setiap kali Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan pujian kepada mereka, aspek serius dalam berdoa selalu menjadi catatan utama. Mereka senantiasa berdoa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan penuh kesungguhan, diliputi rasa harap dan rasa takut, serta bersandar penuh kepada-Nya sebagai perkara nomor satu di dalam hidup.

Ketidakberdayaan Sembahan Selain Allah

Dalil naqli yang menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah, seperti kepada orang-orang yang telah mati atau makhluk yang tidak hadir, merupakan bentuk kesyirikan yang nyata tertuang di dalam surah Fatir. Makhluk-makhluk tersebut tidak akan mampu mendengar suara manusia karena keterbatasan mendengarnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ . إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ

“Dan sembahan-sembahan yang kamu seru selain Allah tidak memiliki apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu; dan kalau mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu.” (QS. Fatir[35]: 13-14)

Istilah qitmir pada ayat tersebut merujuk pada kulit tipis yang membungkus biji kurma. Penggunaan tamsil kulit ari yang sangat tipis ini bertujuan untuk menggambarkan bahwa sembahan-sembahan selain Allah tersebut tidak memiliki kekuasaan atau hak kepemilikan sedikit pun atas benda sekecil itu. Sembahan tersebut tidak akan pernah mampu memenuhi hajat orang-orang yang berdoa kepadanya. Kalaupun mereka mendengar, keterbatasan kodrat sebagai makhluk membuat mereka tidak akan pernah bisa memberikan jawaban atau mengabulkan seruan tersebut.

Zat Yang Maha Kuasa untuk mendengar dan Mengetahui setiap hajat hamba-hambanya hanyalah Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Apabila manusia menyeru sembahan-sembahan selain Allah, mereka tidak akan mendengar seruan tersebut. Kalandainya mereka mendengar karena posisinya dekat, mereka tetap tidak akan mampu memenuhi apa yang diminta, sebab makhluk-makhluk itu sendiri mutlak butuh untuk dipenuhi kebutuhannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Lebih dari itu, pada hari kiamat nanti, sembahan-sembahan tersebut akan mengingkari perbuatan syirik yang dilakukan oleh manusia. Orang-orang saleh pasti akan menolak dan berlepas diri dari tindakan tersebut, karena semasa hidup mereka justru berlomba-lomba untuk memurnikan ibadah hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, mereka pasti mengingkari perbuatan orang-orang yang telah menjadikan mereka tandingan selain Allah. Kelanjutan firman Allah ‘Azza wa Jalla di dalam surah Fatir menegaskan realitas ini:

وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ

“Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha Mengetahui.” (QS. Fatir[35]: 14)

Penyandaran diri kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala bukan sekadar mendatangkan kerugian di dunia dan akhirat, melainkan juga sebuah tindakan yang sangat tidak masuk akal. Pelakunya telah berbuat syirik, tidak mendapatkan apa yang diminta, serta bersandar kepada sesuatu yang lemah. Tragisnya, pada hari kiamat nanti, sembahan-sembahan tersebut tidak dapat memberikan pertolongan sedikitpun dan justru berlepas diri dari para pemujanya. 

Syirik dalam Sifat-Sifat Allah

Jenis syirik besar yang kedua yaitu perbuatan syirik dalam sifat-sifat Allah. Kesyirikan ini terjadi ketika sifat-sifat yang khusus bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala diserahkan kepada makhluk, atau adanya anggapan bahwa makhluk memiliki sifat khusus tersebut. Contohnya adalah keyakinan sebagian orang yang menyatakan bahwa para nabi atau para wali mengetahui seluruh perkara gaib dengan sendirinya, bukan karena pemberitaan dari Allah.

Keyakinan seperti ini merupakan kesyirikan yang sangat berbahaya. Pengetahuan para nabi dan para rasul mengenai sebagian perkara ghaib murni terjadi karena Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyampaikannya kepada mereka, sebagaimana firman-Nya:

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا . إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (QS. Al-Jinn[72]: 26-27)

Meskipun demikian, pengetahuan yang diberikan tersebut hanya mencakup sebagian perkara gaib dan bukan seluruhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala menegaskan kekhususan ilmu gaib ini di dalam surah Al-An’am:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.” (QS. Al-An’am[6]: 59)

Meyakini adanya manusia yang mengetahui perkara gaib secara mandiri adalah bentuk kesyirikan. Atas dasar ini, para dukun dan tukang sihir yang mengaku tahu perkara ghaib dihukumi telah kufur. Kekufuran mereka bukan hanya karena mempraktikkan kesyirikan saat bekerja sama dengan setan sebab setan tidak akan mau melayani manusia sampai manusia itu berbuat syirik atau kufur melainkan juga karena kelancangan mereka yang mengaku tahu perkara ghaib. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

“Katakanlah: ‘Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’.” (QS. An-Naml[27]: 65)

Syirik dalam Hal Kecintaan

Jenis syirik besar yang ketiga yaitu syirik dalam hal kecintaan. Perkara ini termasuk penyakit hati yang sangat besar. Rasa cinta di dalam hati merupakan sesuatu yang sulit dikuasai secara mandiri oleh manusia. Apa saja yang mendominasi kesukaan di dalam hati, termasuk dominasi hawa nafsu yang membisikkan keburukan, maka perkara itulah yang akan membesar di dalam hati seseorang.

Apabila porsi kecintaan kepada makhluk ini telah menandingi porsi kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka tindakan tersebut telah berubah menjadi kesyirikan. Realitas ini menunjukkan betapa rentannya hati manusia untuk tergerak dan terjerumus ke dalam perbuatan syirik, apabila hati tersebut tidak senantiasa dijaga oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. 

Setiap muslim wajib memiliki sifat waspada yang sangat tinggi terhadap bahaya kesyirikan. Ancaman syirik sejatinya berada sangat dekat dengan kehidupan manusia, dan tidak ada yang bisa selamat darinya kecuali orang-orang yang senantiasa mendapatkan penjagaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kekhawatiran ini selaras dengan doa Nabi Ibrahim ‘Alaihis Salam yang diabadikan di dalam Al-Qur’an:

رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ

“Wahai Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia.” (QS. Ibrahim[14]: 36)

Adanya pernyataan eksplisit di dalam Al-Qur’an mengenai besarnya daya sesat berhala tersebut menjadi alasan kuat bahwa tidak ada seorang pun yang layak merasa aman dari jerat kesyirikan, kecuali mereka yang telah dianugerahi keamanan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wujud dari syirik dalam hal kecintaan adalah mencintai salah seorang dari para wali atau makhluk lainnya setingkat dengan porsi kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Indikator dari kesyirikan ini tercermin ketika rasa cinta tersebut telah memalingkan seseorang dari ketaatan kepada Allah, melalaikannya dari aktivitas mengingat Allah, serta membuatnya lebih mendahului perkara yang menyimpang daripada mengamalkan ketaatan. Jenis kesyirikan ini marak terjadi di tengah masyarakat dan sering kali tidak disadari karena letaknya berada di dalam ruang lingkup hati.

Dalil naqli yang melandasi konsep ini tertuang di dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ  

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)  

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullahu ta’ala menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan pelaku syirik tersebut sejatinya masih mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka dinilai telah berbuat syirik besar karena porsi dan kualitas kecintaan mereka kepada Allah disetarakan dengan porsi kecintaan mereka kepada berhala maupun makhluk yang dijadikan tandingan. Realitas teologis ini membuktikan bahwa sekadar mencintai Allah bahkan dengan kadar yang kuat sekalipun belum bisa menyelamatkan akidah seseorang jika ia masih menyamakannya dengan kecintaan kepada tandingan selain-Nya.

Karakteristik ketauhidan yang murni baru akan terwujud apabila hamba tersebut memenuhi kriteria pada kelanjutan ayat di atas:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah[2]: 165)

Penyimpangan dalam urusan cinta ini juga dapat menimpa manusia dalam konteks hubungan keluarga, yaitu ketika rasa cinta kepada keluarga telah melalaikannya dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Manifestasi buruk dari hal ini adalah munculnya rasa tidak tega untuk menegur anggota keluarga yang berbuat salah atau melakukan penyimpangan syariat. Seseorang yang terjebak pada kondisi ini gagal mendasarkan rasa cintanya karena Allah, sehingga ia enggan mengajak keluarganya pada kebaikan, enggan mengajak mereka menghadiri pengajian, serta lalai dalam membimbing mereka untuk selalu berzikir kepada Allah.

Kecintaan yang salah arah ini menjadi sumber malapetaka yang sering kali tidak disadari oleh seorang hamba. Mengingat cinta merupakan amalan hati, maka unsur apa saja yang mendominasi isi hati secara otomatis akan menggerakkan anggota badan untuk melakukan aktivitas yang selaras dengan dominasi tersebut. Seseorang yang hatinya didominasi oleh kecintaan terhadap dunia, maka dinamika aktivitas sadar dalam kehidupan sehari-harinya akan selalu disibukkan oleh urusan-urusan duniawi. Fenomena ini juga terlihat nyata ketika seseorang membuka gawainya; hal pertama yang ia akses pasti berupa urusan dunia yang selaras dengan apa yang dominan di dalam hatinya.

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullahu ta’ala menyebutkan sebuah kaidah bahwa mayoritas aktivitas sadar yang dilakukan manusia berdasarkan kehendak pribadinya dibimbing secara langsung oleh keinginan yang mendominasi di dalam hatinya. Oleh karena itu, upaya meluruskan dan membenarkan porsi kecintaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala serta cinta kepada agama akan menjadi kunci utama yang membenarkan seluruh tingkah laku manusia secara otomatis. Ketika hati telah lurus, maka lisan akan menjadi ringan untuk selalu berzikir kepada Allah, perhatian terhadap urusan agama akan semakin membesar, dan momentum kesendirian pun akan diisi dengan aktivitas berdzikir, membaca Al-Qur’an, serta beristighfar.

Pembersihan dari syirik cinta ini memegang pengaruh yang sangat besar setelah datangnya taufik dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam meluruskan seluruh rutinitas dan aktivitas manusia dalam kehidupan sehari-hari. 

Syirik dalam Ketaatan dan Fenomena Fanatik Buta

Jenis syirik besar yang keempat adalah syirik dalam hal ketaatan. Bentuk kesyirikan ini mewujud ketika seseorang menaati orang-orang yang berilmu, guru-guru, atau para tokoh yang diagungkan dalam perbuatan maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan landasan keyakinan bahwa tindakan tersebut diperbolehkan.

Sebagai contoh, seseorang telah mengetahui secara jelas bahwa suatu perkara diharamkan berdasarkan dalil syariat. Namun, karena gurunya menyatakan perkara tersebut halal, ia pun ikut menghalalkannya. Tindakan menaati ucapan guru yang nyata-nyata menyelisihi maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala ini dikategorikan sebagai bentuk fanatik buta. Pelakunya tetap memilih untuk mengikuti pendapat yang salah yang menyelisihi dalil shahih hanya demi mempertahankan kefanatikan kepada tokoh tersebut.

Kondisi ini berbeda dengan seseorang yang murni tidak mengetahui bahwa pendapat yang diikutinya adalah pendapat yang lemah atau salah karena keterbatasan pengetahuan akan adanya dalil lain yang lebih kuat. Kekeliruan karena ketidaktahuan semacam itu tidak sampai menggiring seseorang pada tingkatan kesyirikan. 

Dalil naqli yang melandasi larangan syirik ketaatan ini tertuang di dalam Al-Qur’an surah At-Taubah:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai Rabb-rabb selain Allah, dan (juga mereka menjadikan Rabb kepada) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya diperintah menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah[9]: 31)

Makna peribadatan atau penyembahan tokoh agama pada ayat tersebut ditafsirkan sebagai tindakan menaati mereka dalam kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu dengan menghalalkan apa yang Allah haramkan atau sebaliknya, mengharamkan apa yang Allah halalkan.

Tafsiran shahih ini bersumber dari sebuah hadits terkenal mengenai dialog antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sahabat Adi bin Hatim yang dahulunya merupakan seorang penganut agama Nasrani sebelum memeluk Islam. Ketika Adi bin Hatim mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam membacakan ayat ini, ia langsung menyela dengan mengatakan bahwa kaumnya dahulu tidak pernah menyembah para rahib dan pendeta. Mendengar hal tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meluruskan kekeliruannya melalui sabda beliau:

أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللَّهُ فَتُحَرِّمُونَهُ، وَيُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَتُحِلُّونَهُ؟ قَالَ: قُلْتُ: بَلَى. قَالَ: فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ

“Bukankah mereka mengharamkan apa yang Allah halalkan, lalu kalian mengharamkannya; dan mereka menghalalkan apa yang Allah haramkan, lalu kalian menghalalkannya?” Adi bin Hatim menjawab: “Betul.” Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Itulah bentuk peribadatan kepada mereka.” (HR. Tirmidzi)

Otoritas mutlak untuk menghalalkan dan mengharamkan suatu perkara merupakan hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Seseorang dinilai telah terjerumus ke dalam belenggu syirik ketaatan ketika ia secara sadar menganggap boleh mengikuti perkataan makhluk yang bertentangan dengan dalil syariat.

Prinsip utama dalam batasan menaati sesama makhluk didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

لَا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat maksiat kepada Sang Pencipta.”

Pembahasan mengenai empat jenis kesyirikan besar ini menjadi materi krusial agar seorang hamba dapat memurnikan tauhid secara lurus kepada Allah Subhanahu wa Ta ‘ala serta mampu menjauhkan diri dari segala bentuk dan variasi perbuatan syirik.

Download MP3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajianSyirik Besar dan Jenis-jenisnya” yang penuh manfaat ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga bisa menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56353-syirik-besar-dan-jenis-jenisnya/